 Dalam Tasyakuran HUT ke-36 MP 'Nama madrasah lazimnya dari bahaa Arab. Nama 'Madrasah Pembangunan' tidak lepas dari kondisi politik negeri ini pada masa itu (tahun 70-an)" demikian disampaikan oleh KH Kafrawi Ridwan, salah seorang pendiri Madrasah Pembangunan pada acara Tasyakuran HUT Ke-36 Madrasah Pembangunan UIN Jakarta, 7 Januari lalu.
Lebih lanjut disampaikan bahwa pada waktu itu sejumlah tokoh penting di Indonesia menghendaki adanya pemisahan agama (Islam) dari konteks kenegaraan sehingga sekolah Islam (madrasah) harus dihilangkan. Lembaga pendidikan yang ada hanya sekolah umum dengan materi pendidikan agama terbatas.
Dalam acara yang dihadiri oleh Pengurus Yayasan, mantan Ketua Yayasan, mantan Direktur, mantan Kepala Madraah, Pengawas, Komite Madrasah, dan para mantan guru serta karyawan yang telah bekerja di instansi lain ini, Pak Kafrawi menyampaikan kenangannya bahwa sejumlah tokoh Islam yang duduk di pemerintahan dan menghendaki tetap tumbuhnya pendidikan Islam lalu mendirikan satu madrasah sebagai proyek percontohan dengan nama 'Madrasah Pembangunan' agar lebih nasionalis.
Madrasah ini, menurut pak Kafrawi, sesungguhnya sebagai bentuk perlawanan terhadap sebuah Grand Design pengkerdilan Islam di Indonesia gagasan beberapa tokoh nasional anti Islam pada awal Orde Baru.
"Kita patut bersyukur hingga hari ini Madrasah Pembangunan masih eksis, bahkan berkembang menjadi cukup besar. Jika perlu, Madrasah Pembangunan tidak hanya di Ciputat saja, tetapi dirikan di tempat-tempat lain agar misi pengembangan Islam terus tumbuh dan berkembang" demikian KH Kafrawi Ridwan mengakhiri kenangannya.
|